Minggu, 14 Februari 2016

PR ADIK

Standard
Malam ini, aku sedang membantu adikku yang terlihat pucat karena sedang sakit ini, mengerjakan pr-nya tentang hidangan. Aku rasa ini cukup mudah, karena ia masih kelas 3 SD. Aku kembali menatap remeh buku tersebut, membaca secara acak selagi dirinya masih menulis.

"Apa yang kamu sukai?"

Andi : Aku suka red meat! 
Dela : Sepertinya brownies! 
Helen : Aku suka masakan bibi! 
Tia : Semua yang manis, permen dan coklat! 
Rendi : Aku suka Ibu! 
Jean : Bubur sumsum yummy. 
Lea : Telur dadar. 
Nora : Buah-buahan. 
Dion : Brownies dan blackforest!

Tiba-tiba diriku tersentak saat tangan adikku, entah secara tak sengaja atau bagaimana, memegang lenganku hingga berdarah karena terkena kukunya yang panjang,

"Kak, aku sudah selesai menulis!" Ujarnya dengan sebuah senyuman di bibirnya.

Aku hanya tersenyum dan kembali memberikan dirinya jawaban yang benar untuk nomor selanjutnya. Aku benar-benar tak mempermasalahkan luka itu sama sekali. 

VALENTINE YANG TRAGIS

Standard
Aku adalah seorang siswa SMA jurusan ipa pada salah satu sekolah internasional yang tak jauh dari rumahku. Aku memiliki seorang teman perempuan yang telah aku suka secara diam-diam semenjak kami masih kelas satu dulu. Ya, walaupun aku seorang nerd, tapi aku tetap dapat merasakan cinta, bukan?

Sekarang kami sudah menginjak kelas 3. Sebelum aku lulus, aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku selama ini padanya dengan cara memberikan sesuatu yang spesial di hari valentine ini. Aku pernah membaca diary-nya secara tak sengaja dan aku tau bahwa dirinya menyukai hadiah coklat yang dibungkus dalam kemasan berbentuk hati di hari spesial itu.

Kali ini, aku meminta bantuan pada sahabatku untuk mencarikanku coklat dan langsung membungkusnya dalam kemasan berbentuk hati, agar diriku bisa langsung memberikan hadiah itu pada perempuan idamanku tersebut. Aku tak sabar menunggu hari esok!

Hari ini, tepat pada hari valentine, kami mendapatkan kabar duka. Sahabat perempuan idamanku meninggal dengan sangat sadis. Sebenarnya aku turut berduka atas tragedi itu. Namun, di sisi lain, aku dan sahabatku cukup bahagia, karena ia merupakan anak sombong yang selalu mengucilkan kami. Maafkan aku, bukan bermaksud apa-apa, tapi kematiannya telah membuat perempuan idamanku bersedih. Mungkin inilah kesempatanku untuk mencari perhatian pada perempuan itu dengan memberinya hadiah valentine ini agar dirinya terhibur.

Setelah bersiap-siap, di sore harinya, aku membuat janji dan menemui perempuan idamanku itu di atap sekolah. Semenit kemudian, aku langsung memberinya hadiah tersebut. Namun, kurasa kematian sahabatnya telah membuatnya gila. Hari itu dirinya meninggalkanku setelah ia melompat bebas dari atap sekolah tanpa alasan. Aku sangat sedih semenjak itu dan akan selalu mengingat momen 2 menit bersamanya untuk yang terakhir kalinya.