Selasa, 30 Juni 2015

TEMAN TAK BERTANGGUNGJAWAB

Standard
“Aku benci sekali dengannya! Dia kira aku perempuan murahan apa?” Ujarku kesal.

“ah kau saja yang bodoh, kalau aku jadimu, sudah aku bunuh tadi lelaki itu!” Tambah temanku.

“Enak aja! Kau menyuruhku membunuhnya di tempat yang ramai orang, untung saja tak ada seorangpun yang mendengarmu dan aku masih bisa mengontrol diri!” Balasku semakin kesal.

“Lelaki seperti itu memang sudah pantas untuk mati!” Sambung temanku.

“Kau ini kawan atau lawan sih?” Aku makin kesal.

“Kau pikir saja sendiri. Aku satu-satunya orang yang kau punya saat semua orang meninggalkanmu. Aku juga selalu memberi saran padamu dan buktinya kau masih setia menjagaku.” Jelas temanku.

“Iya sih, soalnya sudah ditakdirkan! Tapi kau benar juga sih, Cuma kau yang selalu mengerti diriku, lebih dari sahabat setiaku semenjak SD itu.” Aku meredam sedikit kekesalanku.

“Ya sudah, kalau begitu dengarkan aku, bunuh saja lelaki itu!” Perintahnya.

“Enggak ah, aku gak mau dipenjara!” Aku menolak keras.

“Kau ini susah sekali dibilang! Kalau aku bisa, sudah aku bunuh dia untukmu!” Gumamnya percaya diri.

“Ah sudahlah, kau psikopat, kau bukan diriku. Aku akan meminta bantuan musuhmu yang lebih mempertimbangkan sesuatu saja!” Aku mengakhiri perdebatan kami.

“Kau tak boleh dan tak bisa pergi dariku. Kau pasti akan membutuhkan suatu saat nanti. Dasar tidak tahu terima kasih!” Tegasnya berani.

“Terserah apa katamu!”
*

Seorang wanita ditemukan telah membunuh seorang laki-laki dikamar hotel milik lelaki tersebut. Anehnya, wanita tersebut tertidur setelah melakukan hal tersebut. Bahkan ia dibangunkan oleh seorang polisi dan langsung diamankan. Ditemukan barang bukti berupa parang berlumur darah dengan sidik jari wanita tersebut.

“Aku bersumpah, bukan aku pembunuhnya! Temanku memaksaku dan aku tak bisa melawannya!” Aku mencoba membela diriku.

“Seharusnya kau melawannya jika kau benar tak ada niat!” Ujar Polisi tak mau kalah.

“Dia sahabat baikku, tak mungkin aku melawannya!” Sambungku terus membela diri.

“Baiklah, kalau begitu aku akan mencari temanmu juga!” Tambah Polisi tersebut dengan kesal.

“Kau tak akan bisa menemukannya, ia tak memiliki jejak sama sekali di hotel itu!” Ucapku kesal.

“Kalau begitu, kau sendiri yang membunuhnya!” Polisi mengakhiri permbicaraan.

“Tidak! Dialah yang memaksaku dan dia pelakunya!” Aku berteriak dari dalam penjara selagi Polisi itu pergi meninggalkanku sendiri.

Senin, 29 Juni 2015

Cermin

Standard
Ini hanyalah short story horror biasa. Bukan riddle, ataupun novel. Hope you like the first story :)
**********

"Eli, sudah berapa kali Mama bilang jangan mengetuk cermin!"

Lagi-lagi aksiku dihentikan oleh Mamaku yang bawel ini. Sebenarnya aku masih penasaran dengan cara pemanggilan hantu seperti ini sesuai yang temanku bilang. Namun sudah seminggu hal ini aku lakukan, tidak ada apapun juga yang aku lihat.

"Kau tahu bahwa mereka akan mendatangimu saat kau tertidur?" Sambung Mama.

Ia pergi meninggalkanku di kamar dengan menutup kuat pintu tersebut.

"Bagaimana bila mereka datang saat aku masih terjaga?" Ucapku dalam hati meremehkan nasihat Mama.

"Baiklah, jangan lihat ke cermin saat ini!"

Silent & Frozen ; 7

Standard

“Ayo Risa, kita harus cepat!” Ujarku perlahan sambil memopang tubuh Risa untuk terus berjalan mencari tempat yang aman. Aku rasa ketakutan membuatku kuat untuk melakukan hal ini.

“Ira, aku lelah. Kita harus mencari tempat beristirahat.” Gumam Risa yang semakin melemah.

Yang benar saja mencari tempat beristirahat di tempat seperti ini. Aku bahkan tak tahu ini dimana. Aku juga sangat ketakutan, frustasi, lelah, intinya semua hal menjadi satu padu. Aku mencoba tak menghiraukan Risa dan terus berjalan mengikuti jalan utama tersebut, berharap ada seseorang yang melewati jalan ini. Walaupun terdengar mustahil, apa salahya berharap?

Malam sangat terasa dingin, bahkan menusuk tulang Stevy dan Felix yang sedang berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan ke arah rumah Ira. Felix menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, sedangkan Stevy terus mencoba menelepon Ira, walaupun selalu diangkat oleh operator. Mereka mulai kehilangan harapan dan semakin putus asa. Ira adalah harapan kehidupan mereka.

“Aku sangat cemas!” Ujar Stevy sambil mematikan layar ponselnya. “Aku takut!”

“Kau kira aku tidak?” Cetus Felix dengan nada berat. “Sebelum engkau mati, Irene pasti akan membunuhku terlebih dahulu!”

Seakan berada di tempat yang terbuka, tubuh Felix dan Stevy semakin merinding karena dinginnya malam yang sudah membuat kulit mereka mati rasa. Mereka tak mau menghiraukan apapun selain keadaan Ira yang tak tahu entah dimana.

Mobil yang dikendarai oleh Felix berhenti mendadak, hingga membuat kepala mereka terbentur dan merasa kesakitan. Ini adalah suatu tindakan cepat yang dilakukan Felix, karena mobil mereka hampir saja menabrak mobil yang sedang terparkir di depan mereka.

“Felix!!!” Stevy berteriak jengkel. Karena kelalaian Felix, mereka hampir celaka seperti ini.

Memar yang tertanda di dahi kanan mereka tidak menjadi masalah besar dibandingkan harus menabrak mobil yang berada di depan mereka tersebut. Tanpa mau mencari tahu sama sekali, mereka meninggalkan mobil tersebut, dan bergegas untuk mencari Ira kembali.
Felix kembali menjalankan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga hal yang sama terjadi lagi. Felix menghentikan mobil secara mendadak, membuat kepala mereka kembali terbentur dan tak sadarkan diri. Felix hampir saja menabrak mobil yang sedang terparkir dihadapannya, namun aksi penyelamatan diri mereka harus menghentikan aksi pencarian Ira.

Ira terlihat sangat lelah, seperti badannya akan remuk. Jangankan memopang Risa, bahkan berjalan sendiri saja telah membuatnya tak bisa membedakan mana langit dan mana bumi. Ia berhenti di bawah sebuah pohon besar, meletakkan Risa yang sudah tertidur pulas dan menyandarkannya pada pohon tersebut.

“Aku harus tetap nyari bantuan!” Ira berdiri, melanjutkan aksinya. “Mungkin Risa akan baik-baik saja disini.”

Tanpa mencemaskan Risa, Ira kembali berjalan tertatah-tatah sepanjang jalan utama tersebut. Ia berharap ada sebuah rumah disekitar sini, setidaknya ada orang yang berbaik hati memberinya dan Risa tempat beristirahat.

Hampir dua puluh menit berjalan, Ira akhirnya menemukan sebuah gubuk kecil. Di pintu depannya terdapat sebuah papan kecil bertuliskan ‘Mbah Ramli”. Tanpa berpikir panjang, ia mengetuk pintunya berharap kebaikan dari pemilik rumah.

Tiga ketukan Ira telah berhasil membuat dua orang suami istri yang sudah sangat berumur membukakan pintu dan menatapnya intens. “Ada apa, nak?” Tanya pria tersebut.

“Saya butuh bantuan!” Jawab Ira sambil meneteskan air mata.

Rasanya sudah satu jam mereka tak sadarkan diri, sebelum akhirnya Stevy membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Ia memperhatikan Felix yang masih belum sadarkan diri dan lingkungan gelap di sekitar mobil.

“Stevy!”
Aaaaaaaaaa.....” Stevy berteriak lantang saat melihat kearah luar dari kaca mobil tersebut.

Mendengar suara tersebut, membuat Felix sadarkan diri. Ia hanya dapat melihat Stevy menangis sambil menutup matanya diatas bangku mobil tersebut. “Kenapa, Stev?”

Stevy memeluk Felix erat, “Irene!” Ujarnya terbata-bata sambil menangis tersedu-sedu.

Di gubuk tua tersebut, Ira duduk disebelah Risa sambil menangis tersedu-sedu. Ia rasa dirinya tak akan selamat dari kutukan yang sedang melandanya saat ini. Kesedihannya membuat hati Pak Ramli dan istrinya luluh.

“Ada apa, nak?” Tanya Pak Ramli lembut. Ia mungkin dapat membantu Ira keluar dari masalahnya saat ini.

Ira menatap Pak Ramli, “Pak, apakah bapak tahu mengenai sihir atau kutukan?” Ira mengambil nafas sejenak. “Sepertinya aku mendapatkan sebuah kutukan.”

Pak Ramli terdiam membeku, “Kutukan?” Ia masih mencoba untuk merespon kalimat Ira tersebut. “Apa yang membuatmu yakin kalau itu adalah kutukan?”

Ira terdiam sejenak, memperhatikan Pak Ramli kebingungan. “Aku memiliki sebuah tanda aneh di kaki kananku.” Risa memperlihatkan betisnya pada Pak Ramli dan istrinya. “Dan aku selalu dihantui oleh makhluk yang bahkan aku tak tahu itu apa.”

Melihat tanda tersebut, membuat Pak Ramli dan istrinya tercengang. “Pak, segitiga itu!” Ucap Bu Ramli terbata-bata. “Di betis!”

“Ada apa, Bu? Kenapa dengan tanda ini?” Tanya Ira kebingungan. Ia benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang diketahui oleh suami istri tersebut tentang tanda aneh itu.

Pak Ramli menatap Ira sejenak, “Tidak! Itu bukan apa-apa!” Jawab Pak Ramli singkat. Wajah Pak Ramli semakin pucat dengan keringat yang ikut mengalir diwajahnya. “Lebih baik kau beristirahat!”

Karena tidak puas dengan jawaban tersebut, Ira terus memaksa suami istri tersebut untuk memberitahunya. Ia sudah lelah untuk hidup seperti ini, dikejar oleh makhluk yang bukan dari bangsanya.

Hampir setengah jam Ira memaksa Pak Ramli, hingga orangtua tersebut tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya pada Ira. Ia berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kesalahan masa lalunya.

“Sebenarnya...” Pak Ramli memulai kalimatnya.

Tok Tok Tok....

“Pak Ramli!” Teriak seseorang dari luar rumah sambil mengetuk pintu dengan kuat. “Pak Ramli!”

Tanpa menunggu orang tersebut merubuhkan pintu rumahnya dengan ketukan seperti itu, Bu Ramli segera bangkit dari tempatnya dan membuka pintu tersebut.

Tak lama, Bu Ramli telah datang kembali bersama seorang perempuan dan laki-laki. “Stevy! Felix!” Tanya Ira tak percaya. “Apa yang kalian lakukan disini?”

Melihat Ira yang masih dalam kondisi baik, Stevy segera mendekatinya dan memeluknya erat. “Ira baik-baik saja, kan?” Tanyanya cemas.

“Ada apa ini?” Tanya Ira mencoba melepaskan pelukan Stevy. “Mengapa kau mencemaskan diriku?”

Felix mendengus pasrah, “Pak Ramli, ceritakan semuanya!” Perintahnya tegas. Ia segera duduk di dekat Ira.

“Baiklah....” Pak Ramli memulai.

Sebelas bulan yang lalu, jika kau mengingatnya, engkau pernah diculik oleh beberapa orang. Saat engkau diculik dan tak sadarkan diri, kau dibawa ke tempat ini. Kami berencana melakukan sebuah praktik ritual yang sudah dilarang didunia perdukunan.

Ini semua atas perintah Ayah Stevy yang membayarku dengan uang yang sangat berlimpah. Melakukan praktik ‘Triatomi’, Praktik menyatukan darah tiga orang agar ketiga orang tersebut memiliki tiga sel darah masing-masingnya. Ini adalah praktik yang sangat berbahaya.

Dalam praktik ini, ada tiga bagian, yaitu Borban, Batrah dan Binal. Borban adalah korban awal yang tidak tersangkut dalam masalah ini. Selanjutnya Bathrah adalah penyatu darah Borban dan Binal, yaitu orang yang masih tersangkut dalam masalah, namun dalam pihak kedua. Selanjutnya adalah Binal, orang yang memiliki andil tertinggi dalam masalah, orang yang dilindungi dari masalah.

Di praktik yang aku lakukan, aku membuatmu menjadi Borban, Felix sebagai Batrah dan Stevy sebagai Binal. Masalah ini adalah sebuah masalah asmara yang terjadi antara Felix-Stevy-Irene.

“Mengapa kalian begitu tega menjadikanku tumbal?” Ira memotong cepat dengan nada penuh rasa kecewa.

Stevy menangis, “Maafkan aku, Ira! Tapi kau harus mendengar penjelasan kami terlebih dahulu!” Ujar Stevy dengan nada penuh penyesalan.

“Benar!” Tambah Pak Ramli. “Kau harus mendengar penjelasan ini terlebih dahulu.”

Ira terdiam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, Ia tak memiliki pilihan lain selain mendengarkan penjelasan tersebut. Rasanya sama saja jika ia marah, tidak akan hilang ikatan ‘Triatomi’ tersebut dari tubuhnya.

Stevy dan Felix memilihmu karena mereka tahu kau tidak ada hubungan dengan Irene sedikitpun, jadi kau akan aman dari kejarannya. Namun, aku mengetahui kesalahan teori ini, setelah satu bulan berlalu, dan aku mengetahui mengapa teori ini dilarang.

Borban ini seharusnya dilakukan pada keluarga arwah yang sangat disayangi, karena ia tidak akan membunuhnya walaupun terpaksa. Tapi kami menggunakanmu secara tak sengaja, dan aku tak tahu bagaimana caranya Irena dapat mengetahui bahwa kau adalah Borban untuk masalah ini.

“Bagaimana melepaskan ‘Triatomi’ ini?” Tanya Ira spontan. Ia ingin mengakhiri semua ini segera.

“Ini akan kau bawa sampai mati. Belum ada cara untuk melepaskannya, itulah mengapa praktik ini dilarang keras!” Tegas Pak Ramli. “Tapi, karena harta aku dibutakan dan secara hakim sendiri melakukannya padamu. Maafkan kami!”

“Dan aku akan mati sebelum membahagiakan orangtuaku?” Ira menangis tesedu-sedu, tak percaya dengan apa yang telah ia dengarkan.

“Tenang saja, ini akan bertahan selama 2 tahun untuk seorang Borban selamat selamanya.” Sambung Pak Ramli.

Satu tahun pertama, kalian akan merasakan ikatan yang kuat, itulah mengapa Stevy dan Felix mau berteman denganmu selama ini, setelah mereka rajin mem-bully-mu. Tahun selanjutnya, tanda pada Borban akan menghilang, diikuti Batrah pada tahun selanjutnya, dan Binal pada tahun keempat.

Seharusnya, Irena bergentayangan satu bulan lagi hingga tandamu hilang. Namun kesalahan perkiraan ilmu dukunku membuat semua ini terjadi. Sekarang, untuk membunuh Stevy, ia harus membunuhmu dahulu, lalu Felix. Setelah semua tiada, ia akan kembali tenang di alam sana.

Jumat, 26 Juni 2015

DERITA SUAMI BARU

Standard
"Ayah, aku sudah bilang, pernikahanku selama tiga hari ini tak akan berhasil!"

"Ada apa anakku?"

"Istriku itu tidak bisa berbuat apa-apa, memasak, mencuci piring dan baju bahkan menyapu pun tidak. Dia juga tak mau ke pasar. Mungkin permintaan terakhir Ibunya itu terlalu memaksanya untuk menikah denganku, bahkan aku rasa ia tak mencintaiku sama sekali. Ia tak mau makan masakanku, tak mau memperhatikan diriku sebagai suami, bahkan tak mau menyapaku. Ia juga tak pernah menerima uang hasil jerih payahku, aku bahkan tidak pernah memikirkan untuk melakukan malam pertama bersamanya!"

"Tapi dia cantik bukan? Hahaha! Dan juga tidak materialistis kalau begitu!"

"Iya. Tapi apa gunanya cantik yang akan memudar? Apa gunanya istri yang tidak menghargai jerih payah suami? Aku bahkan tak merasakan kehangatan dari wanita seperti yang kau katakan padaku dahulu. Ia tak pernah memelukku saat tidur. Saat aku mencoba untuk memeluknya, aku bukan mendapatkan kehangatan, namun rasa dinginnya. Aku yakin ia sangat membenciku karena menerima permintan terakhir Ibunya untuknya. Ia bahkan menikah denganku pun tak mengenalku. Ibunya memang sudah gila menjodohkan anak sendiri pada orang asing."

"Ayolah, nak. Itu permintaan terakhir Ibunya untuknya. Lagian kau bukan orang asing, Ibunya masih rekan kerjaku!"

"Ayah, kau tak mengerti! Aku mau melakukan ini hanya karenamu dan Ibunya, aku bahkan melupakan keinginanku sendiri demi ini. Tapi tak ada orang yang betah jika menjadi diriku. Ada pikiranku untuk menikah lagi, dan aku yakin ia tak akan marah jika di poligami."

"Apakah kau serius?"

"Ia tak memiliki kemampuan apapun, bahkan untuk mengandung anakku pun aku yakin ia tidak bisa. Mungkin ia akan membusuk tanpa pernah mencintaiku sama sekali daripada harus melayani orang asing sepertiku dalam hidupnya!"

"Baiklah, menikahlah lagi. Tapi apakah kau yakin ia akan merelakannya?"

"Harusnya engkau mengetahuinya sendiri. Lagi pula pernikahan kami tidak tercantum dalam lembaga apapun, kami hanya menikah diam-diam karena paksaan Ibunya."

" Baiklah. Tapi jangan menceraikan atau meninggalkannya, aku tidak enak hati pada Ibunya walaupun ia gila seperti yang engkau katakan. Dan kau juga harus menyembunyikannya dari istri keduamu! Aku tak mau istrimu mengetahui hal gila yang telah kau lakukan hanya karena tidak enak hati pada Ibunya dan diriku."

"Itu sudah pasti Ayah! Aku tak mau membuat istriku ikut gila karena hal bodoh ini."

Senin, 22 Juni 2015

DIARY CAROLINE

Standard
Aku adalah Caroline, aku memiliki saudara kembar yang bernama Carolina.

Saat aku meninggal, aku tahu bahwa aku sangat bahagia karena hidupku sungguh tidak menyenangkan. Kedua orangtuaku selalu saja membangga-banggakan Carolina kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.

Setidaknya aku sangat lega dengan takdirku saat ini. Aku cukup berterima kasih kepada Tuhan. Akhirnya aku tak perlu merasa iri lagi pada saudara kembarku.

AYAH

Standard
Ayahku selalu saja menyiramku dengan seember air setiap pagi saat membangunkan diriku. Masih basah pakaianku, ia telah mengangkatku dan meletakkan diriku ke atas tanah untuk membersihkan halaman.

Beberapa tahun berlalu, saat aku telah menjadi seorang yang sukses, aku membeli sebuah kapal. Aku menjadi seorang pelayar yang kaya raya.

Sebenarnya aku malas mengajak Ayahku untuk tinggal bersamaku, karena dendam masa laluku. Tetapi, aku lebih memilih untuk memaafkan dirinya dan mengajaknya bersamaku.

Suatu hari, saat aku sedang terlelap dalam tidurku. Tiba-tiba saja aku terbangun karena lagi-lagi pakaianku basah dan aku melihat Ayahku sedang mengangkatku dan meletakkan diriku ke atas pasir.

Aku benci dengan dirinya, seharusnya aku tidak pernah mengakuinya sebagai Ayahku dan tidak pernah mengajaknya untuk hidup bersamaku. Lebih baik menjadi durhaka dibandingkan melihat wajahnya.

Senin, 01 Juni 2015

IT'S APRIL !!

Standard
Di hari pertama bulan April 2014 ini, aku membuka Facebook-ku dan memulai chatting bersama teman-temanku, salah satu temanku mengirimkan link padaku. Aku membuka link tersebut, sebelum halaman tersebut terbuka, terdapat tulisan “When will I die?” dan “If you accept it, there is no way to going back!”.

Membaca tulisan tersebut membuatku menjadi sangat takut dan mencoba mencari tahu link tersebut di google. Di beberapa halaman google mengatakan link tersebut digunakan untuk mengetahui kapan kita akan mati. Terdapat beberapa orang yang telah menggunakannya, dan kapan mereka akan mati tersebut benar-benar terjadi setelah membaca isi link misterius tersebut.

Aku mencoba mencari di google kembali, beberapa halaman google lain mengatakan link tersebut adalah hoax dan hanya untuk candaan. Karena itu, aku menjadi berani dan membuka link tersebut.

Setelah melakukan check identitas, terdapat beberapa pertanyaan pada link tersebut.

Wait for 10 Minutes: Yes or No? _ Aku pikir itu berarti menunggu loading selama 10 menit, aku memilih Yes

After: Yes or No? _ Aku kurang paham, tetapi aku memilih Yes

Reading this: Yes or No? _ Karena aku sedang membaca link ini, aku memilih Yes

Processing, please wait. Done.

There is no way to going back now.

Lalu link tersebut menampilkan gambar sebuah kuburan yang terdapat namaku pada batu nisannya dengan tanggal 1 April 2014. 

"YOU'LL DIE!!!" BUT “IT’S 1st APRIL!!!”

Aku pun tertawa, link bodoh sialan ini ternyata gila. Tetapi ini sangat menghibur walaupun sedikit mengerikan pada awalnya. Tapi, tetap saja aku takut intinya.

INSIDEN

Standard
Aku tau bahwa diriku bukan yang terbaik, tapi bukan seperti ini seharusnya balasan yang aku dapatkan. Ini sudah sangat kejam. Mereka bilang mulutku pembawa sial, tapi aku tak percaya dengan hal itu.

Teman-temanku mengajakku ke rel kereta api dan mendorongku seakan telah berencana membunuhku, hingga aku dapat melihat sebuah kereta api melaju dengan sangat cepat. Kereta api yang memiliki muatan dua ratus tujuh puluh tiga orang tersebut hampir menabrak diriku. Untungnya aku bisa menyelamatkan diriku dengan kekuatanku sendiri, sedangkan temanku yang lainnya tak membantu dan hanya tertawa jahat.

Aku merasa sedikit kesakitan, tetapi itu tak masalah, mungkin itu hanya reaksi tubuhku ketika sedang panik. Ingin rasanya aku menghajar teman-temanku semua sekaligus kereta api tersebut, tetapi sayangnya aku tak bisa. Aku hanya melemparkan sumpah serapah kepada mereka semua, walaupun mereka tak mau mendengarkan diriku.

Breaking News

Kereta api jurusan A-B tak dapat dikendalikan, menyebabkan sebuah kecelakaan yang membunuh 274 orang. Polisi masih melakukan olah TKP di tempat tersebut........

Aku dan teman-temanku sama-sama terkejut mendengar berita tersebut. Aku menangis, diikuti oleh mereka semua.

Jumat, 22 Mei 2015

AMNESIA

Standard
Aku sedang mencoba menutup mataku, mencoba tidur dengan memeluk sebuah boneka cantik kesayanganku yang memiliki rambut seperti milikku. Aku terus terbayang dengan kejadian dua hari lalu saat sahabatku tewas mengenaskan dikamarnya, sebelah kamarku. Namun aku tak dapat mengingat banyak karena aku terkena amnesia.

Yang aku ingat hanyalah kami sedang bermusuhan dan tidak saling tegur sapa selama seminggu karena memperebutkan seorang lelaki.

Sebelum kejadian tersebut, aku sering melihat lelaki tersebut masuk ke kamar sahabatku. Dari dinding perantara, aku dapat mendengar tawa mereka. Hingga satu malam saat aku kehilangan ingatanku.

Suatu malam, aku mendengar pertengkaran sahabatku dengan lelaki tersebut. Semenjak saat itu, lelaki tersebut tidak mendatangi kamar sahabatku seperti biasanya hingga saat ini.

Yang aku ingat hanyalah, saat itu aku sedang mengiris sesuatu. Selain itu, aku mengingat teriakan ketakutan sahabatku saat aku berada dikamarnya. dan juga, aku mengingat seseorang mendorong tubuhku hingga kepalaku terbentur dengan tembok.

Sekarang aku tidak mendapatkan sedikitpun clue siapa yang telah membunuh sahabatku. Sekarang yang bisa aku harapkan adalah laporan hasil penyelidikan pihak polisi dan mungkin saksi mata dari lelaki tersebut, barangkali ia mengetahui hal ini.

Akhirnya aku dapat menutup mataku, tidur bersama boneka cantik kesayanganku.

PEMAIN FILM

Standard
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi pemeran utama pada film bergenre thriller produksi Jepang.

Malam ini, kami tiba di tempat syuting. Namun karena sedang ada polisi yang bertugas, kami harus menunggu hingga akhirnya mereka kembali ke markas yang berjarak 6 km dari lokasi tersebut.

Saat melakukan syuting, aku diminta untuk menjadi perempuan yang akan dibunuh oleh seorang penjahat dengan cara memotong kepalaku.

Di tempat tersebut, aku terjatuh dan aku dibacok hingga darah bermuncuran dan aku mati. Seperti biasanya, itu bukanlah diriku, namun standman yang ditugaskan untuk mengganti pemeran.

Beberapa menit setelah syuting selesai, aku shock. Orang yang pernah mencoba membunuhku dahulu yang sedang berada dipenjara baru saja melarikan diri dan kabarnya ia akan menuju ke tempatku.

Untuk melindungi diriku sebagai orang terkenal, orang yang menjadi perampok pada film yang sedang kami syut segera mengajakku untuk pergi dengan menggunakan mobil.

Tanpa banyak membantah, aku segera mengikutinya. Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah mobil berjalan menjauh dari lokasi.

Rabu, 20 Mei 2015

TATIANA

Standard
"Ayah, aku takut!! Ada hantu!!" Teriak Tatiana, gadis berusia 8 tahun sambil memeluk guling. Ia berteriak kepada Ayahnya yang berada disisi kasurnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.03 tengah malam, namun Tatiana belum juga bisa menutup matanya.

"Memang begitu seharusnya. Kau sudah tahu sendiri bahwa apa yang engkau takutkan itu pasti datang pada tengah malam!" Ujar Ayahnya makin menakuti Tatiana.

"Sudahlah! Ayah, aku takut!" Nada bicara Tatiana semakin meninggi.

"Tutup matamu dengan segera!" Perintah Ayahnya. "Kau akan mati ketakutan malam ini!" Sambung Ayahnya.

"Diam! Ayah, aku takut!" Sekarang Tatiana menangis seketika. Ayahnya hanya tertawa jahat kepada Tatiana.

Akhirnya Ayah menjauhi Tatiana dan mematikan lampu kamar sambil menutup pintu kamar Tatiana.

MISTERI KEMATIAN

Standard

Diana baru saja memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Vico, pacarnya ketahuan selingkuh dengan sahabat Diana.

Keesokan harinya Vico dan pacar barunya ditemukan tewas dikamar Vico tanpa ada bekas sidik jari dan luka.

Di TKP hanya terlihat sepasang sarung tangan berlumuran darah dan bantal. Polisi sedang menyelidikinya.

Diana memperhatikan cermin sambil menangis dan berbicara dengan bayangannya sendiri. Ia seperti sudah gila.

"Kau memang jahat! Kau tak dibutuhkan lagi!!"

Dua hari kemudian, Diana ditemukan tewas tanpa ada bekas sidik jari dan luka. Hanya ada sarung tangan berlumuran darah yang ia melekat ditangannya dan sebuah bantal di dekat kepalanya.

Rabu, 13 Mei 2015

DIBALIK RENCANA

Standard
"Mengapa Ibu meninggalkan kita, Ayah?" Tanyaku pada Ayahku.

"Karena orang baik akan kembali pada Tuhan lebih cepat, nak!" Balas Ayah sambil memeluk diriku.

"Aku tahu itu. Tapi, Ayah lebih baik daripada Ibu. Ibu adalah orang yang sangat jahat. Tetapi, tetap saja Ibu yang pergi terlebih dahulu." Gumamku.

"Jangan seperti itu, nak. Tuhan mempunyai rencana terhadap Ibu, Ayah dan juga dirimu. Sama seperti Ibu dan Ayah, semua orang juga memiliki rencana." Jawab Ayah tegas.

"Aku juga, Yah!" Aku menangis tersedu-sedu pada pelukan Ayahku.

"Kalau begini, berarti Ibu lebih baik di mata Tuhan daripada Ayah. Aku ingin Ayah lebih disayang oleh Tuhan dibandingkan Ibu." Sambungku.

"Sudahlah, itu sudha ditakdirkan, nak!" Ayah kembali menjawab dengan tegas.

SAHABAT

Standard
Akhir-akhir ini Dedi menjadi sangat pendiam. Setelah kematian sahabat terbaiknya, Robi, Ia menjadi jarang makan, jarang bersosialisasi dan sering mengigau.

Sepertinya ia mengetahui rahasia yang tak dapat ia katakan pada polisi saat diminta kesaksian atas kematian temannya saat itu.

Mereka selalu main berdua saat jam pulang sekolah karena mereka adalah nerd dan tak disukai oleh teman sekelas mereka yang laki-laki.

Saat detik kematian Robi, hanya Dedi seorang yang melihat darah segar mengalir dari kepala, hidung dan mulut sahabatnya tersebut. Seperti darah bekas pukulan kuat.

Sekarang dan seterusnya ia akan merasakan kesepian tanpa sahabatnya. Ia benar-benar menyesali kematian sahabatnya tersebut.

RUMAH BARU

Standard
Aku tak tahu mengapa aku dipindahkan secara paksa ke rumah baru ini. Aku harus tinggal sendiri tanpa Ibu dan Ayahku. Aku hanya sekali melihat rombongan orang yang aku kenal bertamu kesini. Ramai, tapi hanya sekali, saat pertama aku tiba disini.

Selebihnya, aku hanya didatangi satu atau dua orang tamu saja per minggu, seperti Kakakku, Adikku, dan Pamanku. Itu pun aku tak dapat melihat wajahnya sama sekali karena aku seperti diasingkan.

"Anakku!"

Terdengar suara seorang wanita menangis di depan rumahku. Aku baru menyadari suara siapa itu.

"Ibu?" Ingin rasanya aku berlari memeluk Ibuku yang sedang menangis tersebut. Namun pintu rumahku terkunci dari luar. Aku benar-benar tak bisa keluar, karena rumahku sengaja tidak diberi jendela ataupun celah agar tidak kotor.

"Biarkan saja dia disana. Jangan ganggu dia!" Terdengar juga suara Ayah membentak Ibuku yang sedang menangis.


"Apa yang terjadi pada Ibuku tercinta?"

MISTERI NOVEL

Standard
Aku tak pernah tau bahwa dokter yang merawatku sangat melarangku menulis dengan tinta merah. Namun apa boleh buat? Di kamarku selalu saja dipenuhi dengan tinta merah. Tak ada tinta berwarna lain sama sekali di kamarku.

"Berhenti menulis novel tersebut, dan berhenti menggunakan tinta merah. Banyak yang merasa tersakiti akibat ulahmu." Gumam salah satu dokter.

"Bahkan kami pun takut dengan ceritamu tersebut." Ujar dokter lainnya.

Dan aku juga tak tahu mengapa isi novel yang aku tulis selalu sama dengan kenyataan. Aku selalu membuat cerita bergenre thrill. Setiap aku membuat cerita tersebut, ada saja temanku di tempat tersebut yang meninggal.

Silent & Frozen ; 6

Standard
“Halo, bisa bicara dengan Felix?” Ujar seorang perempuan diujung telepon. Suaranya terdengar sangat serius.

“Iya, dengan saya sendiri. Ini siapa?” Tanya lelaki yang bernama Felix tersebut. Ia tampak sangat mengantuk dengan mata merahnya tersebut.

Lelaki tersebut terpaksa mengangkat telepon pada pukul 09.00 malam, saat ia sedang tertidur lelap. Hari ini ia tidur lebih cepat karena lelahnya mengisi acara mulai dari pukul 7 pagi hingga 7 malam. Ditambah lagi, ia masih mengisi acara lain esok hari. Ia memang penuh kesibukan dalam hari-harinya.

“Felix, Ini Stevy. Aku butuh bantuanmu sekarang. Tolong datang ke rumahku secepatnya!” Ujar perempuan yang bernama Stevy tersebut. Nada bicaranya terdengar sangat cemas.

Stevy adalah siswi SMA yang merupakan sahabat dekat Ira, ia juga merupakan pacar dari Felix, itulah sebabnya ia menelepon Felix malam ini. Mereka berdua adalah pasangan yang memiliki hobi yang sama, yaitu aktivitas paranormal. Mereka selalu mencari suatu kebenaran dari sebuah misteri, ghost hunter dan segala jenis hal yang berbau mistis lainnya.

“Ya Tuhan, Stevy! Tidakkah kau tau jam berapa sekarang?” Jawab Felix dengan nada yang meninggi. Lelaki tersebut masih terlihat lemas dan butuh istirahat ekstra.

“Aku butuh!” Jawab Stevy singkat.

Tuttututtututtut......

Stevy mematikan telepon dengan segera sebelum Felix menjawab. Ia adalah perempuan yang keras kepala, overprotective. Sekali ia mendengar suatu hal mistis terjadi pada temannya, saat itu juga ia turun tangan untuk membantunya.

Jam telah menunjukkan pukul 09.00 malam, aku hanya memilih untuk menutup mataku dan memeluk Risa. Rasanya kehidupan mengerikan ini sudah membuat diriku sangat gila, ditambah lagi orangtua Risa yang belum kunjung sampai untuk menjemput.

“Ira, aku mau pulang!” Ujar Risa sambil menangis tersedu-sedu. Aku hanya memeluknya tanpa mau membuka mataku.

Aku memang sangat ketakutan saat ini, namun yang lebih aku cemaskan adalah keadaan Risa. Walaupun diriku tidak terlalu kuat dan berani, namun Risa lebih lemah dan penakut dibandingkan diriku. Aku tak mau terjadi apa-apa pada dirinya saat ini, jika aku tak mau repot-repot nantinya.

“Ira, ayo! Lebih baik kita berjalan saja.” Pintanya dengan suara lemas. Yang aku pikirkan setelah dirinya mengucapkan hal tersebut adalah, “Apakah kau sudah gila?”

Ia memeluk diriku semakin erat dan air matanya telah membasahi bajuku sedikit. Aku rasa tak mungkin bila kami berjalan, ini sangatlah tanggung. Berbalik ke rumah Risa, mustahil karena terlalu jauh. Sedangkan ke rumahku, harus melewati tempat kosong dan hutan yang lebat. Aku bingung memikirkan hal tersebut.

Berjalan keluar hanya membuat orangtua Risa sangat cemas saat mereka sampai ke tempat ini, menunggu juga seperti tak ada gunanya. Jangankan keluar dari tempat ini, membuka mataku saja aku tak berani. Rasanya waktu berjalan cukup lambat di tempat ini.

Waktu demi waktu yang telah kami lewatkan hanya berbuah pergantian jam menjadi ke angka 10.00 malam. Alhasil Aku dan Risa tertidur pulas, setidaknya beban kami mulai berkurang saat kami tertidur.

Tetapi tidak, kali ini aku mendengarkan lagi sebuah suara dari luar mobil ini. Suara tersebut seperti memanggil namaku. Aku mencoba menghiraukan apapun itu, Aku yakin semua akan baik-baik saja. Tidak, ini memang tidak baik, suara tersebut semakin mendekat padaku, aku juga dapat merasakan tubuh Risa bergerak sedikit. Aku berharap Risa tidak terbangun, atau dia akan berteriak, menangis dan segala macam yang ia bisa lakukan.

“Ira.....” Suara halus dan pelan membuat bulu kudukku merinding.

“Kenapa?” Suara tersebut seperti bertanya pada diriku. Ia sepertinya mencoba mencari sebuah alasan yang bahkan diriku tak mengerti apa yang ia maksudkan.

“Mengapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa????” Ia berteriak membuat diriku berteriak sekuat tenaga. Teriakanku berpadu dengan suara mengerikan tersebut. Diriku seakan terhipnotis dan hilang kendali. Aku dapat merasakan tubuh Risa menggeliat, Ia akan terbangun.

...Tok Tok Tok...

...Tok Tok Tok...

“Akhirnya kau datang juga. Cepat masuk!” Stevy membuka pintu rumahnya. Ia menarik Felix yang berada di depan pintu rumahnya tersebut.

Mereka berjalan dengan sangat terburu-buru hingga mereka tiba di sebuah ruangan kecil yang berisi alat-alat misterius yang sering digunakan untuk pemburuan dan melakukan hal yang mistis lainnya. Felix yang baru saja tiba, memasang ekspresi bingung.

“Ada apa sih Stevy?” Tanya Felix sambil membuka jaketnya.

Lelaki tersebut masih terlihat sangat lelah, apalagi untuk melakukan hal mistis dan supranatural yang membutuhkan tenaga ekstra seperti itu. Namun, pertanyaannya tidak digubris sama sekali oleh Stevy. Perempuan tersebut terlihat sibuk mencari sesuatu, kesana kemari ia menghitari ruangan tersebut. Felix yang merasa kebingungan segera berdiri.

“Jika kau beritahu apa yang sedang engkau cari, barangkali aku dapat membantumu.” Gumam Felix sambil mengikuti langkah cepat Stevy.

“Aha, tak perlu. Ini dia!” Tukas Stevy sambil membawa album foto menuju ke arah Felix.

“Apa itu?” Tanya Felix kebingungan.

“Ini semua tentang kematian Irene!” Jawab Stevy cepat sambil membuka halaman pertama album foto tersebut.

Felix memukul kuat permukaan meja dan bergegas berdiri, “Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa hantu Irene itu tidak ada!” Bentaknya lantang membuat Stevy menutup kembali album tersebut.

“Mengapa kau tak mau medengarkan diriku sekalipun?” Suara Stevy yang datar, meluluhkan semangat Felix. Lelaki tersebut tidak memiliki pilihan lain selain duduk kembali pada tempatnya.
Felix mengambil album tersebut, Ia memandangi album yang berisi beberapa foto milik Irene, mantan pacarnya. Dulunya mereka saling mencintai, namun kehadiran Stevy, membuat Felix berpaling dari Irene dan membuat Irene sangat membenci Stevy dan memilih untuk mengakhiri hidupnya di kamar mandi sekolah.

“Kalau benar arwah yang bergentayangan tersebut adalah arwah Irene, mengapa Ia tidak membunuh diriku yang telah meninggalkan dirinya demimu?”

Stevy terdiam sejenak.

“Mengapa Ia tak membunuhmu karena engkau menerimaku padahal kau tahu aku adalah kekasih Irene? Mengapa Ia mengejar Ira, yang sama sekali tak mengenal Irene dan tak ada campur tangannya dalam masalah ini, setitikpun?”

Stevy melepaskan jaket yang ia gunakan dan hanya menyisakan kaus berwarna hitam yang menempel pada tubuhnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tidak ingatkah dirimu pada ‘Triatomi’ saat itu?”

Triatomi adalah sebuah persembahan untuk mengikatkan jiwa dari 3 manusia agar terbentuk suatu rantai yang digunakan untuk melindungi seseorang yang sangat penting dengan mengorbankan dua orang yang merupakan orang biasa bahkan tidak bersalah.

Pada kasus ini, Triatomi telah diciptakan untuk seorang presiden, raja dan orang penting lainnya. Selain orang penting, cenayang juga sering menciptakannya untuk anak tunggal yang ia miliki, putrinya yang paling cantik atau putranya yang paling tampan agar mereka dapat hidup lama hingga membahagiakan kedua orangtuanya.

Triatomi dilakukan dengan mengumpulkan 3 manusia yang akan diberikan rantai ikatan. Rantai pertama adalah Borban, yaitu korban pertama yang memiliki jiwa paling lemah dan biasanya dari golongan orang bawah dan tak ada masalah dalam hal yang akan dijadikan Triatomi.

Rantai kedua adalah Batrah, yaitu korban kedua yang memiliki jiwa pemimpin tinggi, biasanya masih memiliki hubungan dengan masalah yang akan dijadikan Triatomi. Rantai kedua ini digunakan untuk menghubungkan jiwa rantai pertama dan ketiga. Rantai ketiga adalah Binal, rantai ini adalah rantai untuk orang yang tinggi dan dilindungi, biasanya Presiden atau pemimpin atau orang yang meruapakan tokoh utama dalam masalah yang akan dijadikan Triatomi.

Orang yang telah diikat dengan Triatomi tak akan bisa mati walaupun dilanda oleh kecelakaan paling mengerikan sekalipun. Mereka hanya bisa mati ditangan orang yang memiliki dendam atau masalah pada Binal yang telah dijadikan Triatomi.

Triatomi dilakukan dengan mendonorkan darah dua jiwa dari 3 manusia yang akan dijadikan Triatomi ke jiwa lainnya. Begitu hingga masing-masing dari 3 manusia tersebut memiliki 3 sel darah yang sama.

Tritomi juga telah diciptakan oleh cenayang dan membuat rantai ikatan antara  Stevy, Felix dan Ira. Stevy dan Felix telah mengetahui bahwa mereka telah dijadikan Triatomi. Namun, hanya Ira sendiri yang belum mengetahuinya. Stevy dan Felix telah bersumpah pada cenayang akan memberitahukan hal tersebut pada Ira pada saat yang tepat.

“Jadi, arwah Irene masih mencoba membunuh Ira?” Ujar Felix yang terlihat sangat terkejut dengan hal itu.

...tuuuut...tuuuuut...tuuut....

Stevy mencoba menghubungi nomor ponsel milik Ira yang belum kunjung diangkat. Stevy sudah sangat cemas dengan hal tersebut dan memilih untuk mengunjungi rumah Ira dan melihat keadaannya.

“Ke rumah Ira? Malam gini? Aku tak mau, besok aku masih ada pekerjaan!” Gumam Felix tak percaya. Memang terdengar sangat gila bila mereka mau berkunjung ke rumah Ira yang sungguh jauh dan terpencil pada malam hari seperti ini.

“Baiklah, besok kau bekerja, dan lusa kau telah tewas mengenaskan.” Balas Stevy sambil memakai kembali jaket milikinya.

Felix memang tak bisa menolak apapun yang dikatakan oleh Stevy. Stevy selalu benar dalam hal-hal mistis seperti ini. Felix pun tak menjawab, Ia hanya berjalan bersama Stevy menuju ke mobil milik Felix yang masih terparkir rapi di depan rumah Stevy.

Pintu mobil terbuka perlahan, terlihat dua pasang kaki keluar secara bersamaan. Dapt dilihat bahwa bulu pada dua pasing kaki tersebut sudah berdiri. Aksi yang mereka lakukan dapat didefinisikan sebagai aksi ketakutan namun nekat.

“Risa jangan teriak ya kalau dijalan lihat apapun!” Perintah Ira sambil memopang tubuh Risa yang masih sangat lemas. Tanpa ada balasan, Risa hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, Ayo jalan.” Tukas Ira yang telah mengarahkan senter ke arah depan dan Risa yang ikut menyinari jalan dengan flash pada ponsel miliknya.

“Ira, tadi kenapa teriak? Ira lihat apa?” Tanya Risa perlahan sambil terus berjalan.

Ira lebih memilih untuk terdiam dan melanjutkan perjalanannya. Ira sudah cukup kerepotan dengan rasa takutnya, ditambah lagi emmopang tubuh Risa yang sangat lemas. Ia benar-benar takut dan berani dalam satu waktu. Takut untuk dirinya sendiri dan berpura-pura berani untuk membuat Risa tidak takut dan tetap tenang.

Mereka tak ingin melihat ke belakang sama sekali, hanya melangkah ke arah depan yang mereka lakukan, menuju ke rumah Ira yang masih sangat jauh dan harus melewati hutan yang lebat. Mereka hanya dapat berusaha, berharap dan berdoa agar mereka sampai ke tujuan dengan selamat.

Mobil kijang berwarna hitam masih melaju cepat melewati kegelapan malam. Kecepatan tersebut menembus kegelapan malam pada jalan panjang yang dilindungi oleh pepohonan pada sisinya. Mobil tersebut terlihat terburu-buru. Tanpa menghiraukan adanya lubang atau masalah apapun, mobil tersebut terus menambah kecepatannya.

“Cepat, Yah! Risa dan Ira diluar sana ketakutan dan kedinginan.” Gumam Ibu Risa yang hanya dapat menangis mengingat keadaan anak-anaknya. Ia juga telah menganggap Ira sebagai anaknya sendiri karena mereka telah saling menganal semenjak Ira masih bayi.

“Tenang, Ma. Berdoa saja agar Risa dan Ira baik-baik saja.” Jawab Ayah Risa yang juga terlihat cemas.

“Yah, awas!” Ibu Risa berteriak lantang sembari Ayah Risa membanting setir mobil yang mereka kendarai. Mereka harus menghentikan mobil sebelum mereka menabrak seorang perempuan yang sedang menagis di tengah jalan sepi tersebut. Untung saja mobil sudah dapat dihentikan sebelum mengenai tubuh perempuan tersebut.

“Siapa perempuan tersebut?” Tanya Ibu Risa yang terlihat pucat dan ketakutan.

Kamis, 07 Mei 2015

SUAMI

Standard
Pernikahanku selama 1 tahun ini awalnya sangat bahagia. Suamiku adalah orang yang giat bekerja, romantis, ia selalu membawakan bunga ketika kembali bekerja. Ia adalah lelaki pencinta warna hitam, sepatunya, jasnya, kacamata, celana nya semua hitam. Ia juga sering membawa teman-temannya ke rumahku saat pulang bekerja.

Tetapi, seminggu terakhir ini ia menjadi berbeda. Ia menjadi malas bekerja, juga tak romantis sama sekali. Aku selalu bekerja mencari nafkah, sedangkan suamiku asik bermalas-malasan sendiri. ia selalu menonton TV dan tak menghiraukan sama sekali. Setelah ia pulang dari tugas terakhirnya smeinggu yang lalu, aku semakin cemas dengan keadaannya yang terlihat mengerikan seperti orang yang tak makan dan mandi selama seminggu.

"Ibu tak mau lagi kau tinggal bersama pria itu. Pokoknya Ibu mau kau tinggal dirumah lama kita. Kami tahu kau sudah sangat gila dengan kehidupanmu sekarang."

Ibuku mengajak diriku pindah dari rumah itu, meninggalkan suamiku dan tinggal kembali bersama orangtuaku. Akupun mengiyakannya.

Diperjalanan menuju ke mobil Ibu, aku melihat seorang pria yang mirip sekali dengan suamiku yang menggunakan pakaian hitam dan membawa bucket bunga sedang berjalan bersama 10 orang pria yang mengikutinya. Ia berjalan menuju ke halaman rumahku.

Aku berlari ke pintu belakang, aku masih dapat melihat suamiku yang sedang berbaring menonton TV. Sekarang aku benar-benar bingung. Aku berlari ke tempat Ibu sambil melihat pria yang mirip suamiku yang sedang mengetuk pintu depan rumahku. Aku segera memasuki mobil dan meminta Ayah dan Ibuku segera membawaku ke rumah lama kami.

Selasa, 10 Februari 2015

CERMIN

Standard
Malam ini Ibu tidak berhenti untuk mengecek keadaan dalam kamar Rey, anaknya yang berumur 7 tahun. Seminggu lalu ia mengalami musibah yang tak disengaja oleh Ibunya yang berdampak pada tubuhnya. Ia juga mulai menjadi seorang yang paranoid setelah itu.
Setiap hari Rey mengeluhkan pada ibunya bahwa ada seseorang yang berada di dalam kamarnya dengan wajah yang mengerikan melihat tepat kearahnya. Ia selalu saja tampak di cerminnya, namun saat Rey berbalik dan melihat siapa orang tersebut, Ia tidak bisa menemukan siapapun disana.
Ibu menangis di depan pintu kamar Rey tersebut. Dengan membawa palu kecil, Ibu menghancurkan satu-satunya cermin yang ada di kamar anaknya tersebut, dan mulai saat itu, Rey tidak pernah mengeluh lagi kepada Ibunya tentang penampakkan tersebut.
Tak berapa lama, Rey mulai mengeluhkan tentang hal tersebut kembali kepada Ibunya. Ia mengatakan bahwa Ia dapat melihat makhluk tersebut di cermin di dalam kamar Ibunya, namun makhluk itu benar-benar tampak sedih dan ketakutan. Tanpa menunggu lama, Ibunya menghancurkan seluruh cermin yang ada di dalam rumahnya. Semenjak saat itu, Rey merasa sangat bebas, aman dan tenang, dan tidak pernah melihat makhluk tersebut lagi.

Minggu, 11 Januari 2015

SUARA MISTERIUS

Standard
Malam itu, Nia tingaal sendiri di rumahnya, kelurganya sedang pulang ke kampung halaman untuk beberapa hari. Malam ini ia sedang bermain salah satu sosial media hingga larut malam sampai ada satu suara dari rumah tetangga nya. Wanita di rumah tersebut sepertinya sedang bertengkar hebat dengan suaminya, ia menjerit ketakutan, seperti akan dipukul oleh suaminya.
Nia segera berdiri menuju  ke pintu kamarnya, ia berniat membantu wanita tersebut.
"aku harus kesana!"
"jangan, kau akan berada dalam bahaya, mereka tampak berantam hebat."
"tapi tidak ada cara lain. Atau aku harus telepon polisi"
"iya benar, itu lebih baik yg bisa kau lakukan."
Aku pun segera menelpon polisi, menunggunya salama 10 menit sambil terus mendengarkan suara jeritan wanita tersebut selama beberapa menit. Tetapi malangnya, setelah polisi datang, mereka sudah tidak bernyawa lagi. Mereka ditemukan mati dengan leher bekas cekikan. Polisi menyatakan bahwa mereka saling cekik hingga mati, karena tiada orang lain di dalam rumah tersebut setelah di cek oleh puluhan polisi tersebut.

#A