Senin, 29 Juni 2015

Silent & Frozen ; 7

Standard

“Ayo Risa, kita harus cepat!” Ujarku perlahan sambil memopang tubuh Risa untuk terus berjalan mencari tempat yang aman. Aku rasa ketakutan membuatku kuat untuk melakukan hal ini.

“Ira, aku lelah. Kita harus mencari tempat beristirahat.” Gumam Risa yang semakin melemah.

Yang benar saja mencari tempat beristirahat di tempat seperti ini. Aku bahkan tak tahu ini dimana. Aku juga sangat ketakutan, frustasi, lelah, intinya semua hal menjadi satu padu. Aku mencoba tak menghiraukan Risa dan terus berjalan mengikuti jalan utama tersebut, berharap ada seseorang yang melewati jalan ini. Walaupun terdengar mustahil, apa salahya berharap?

Malam sangat terasa dingin, bahkan menusuk tulang Stevy dan Felix yang sedang berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan ke arah rumah Ira. Felix menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, sedangkan Stevy terus mencoba menelepon Ira, walaupun selalu diangkat oleh operator. Mereka mulai kehilangan harapan dan semakin putus asa. Ira adalah harapan kehidupan mereka.

“Aku sangat cemas!” Ujar Stevy sambil mematikan layar ponselnya. “Aku takut!”

“Kau kira aku tidak?” Cetus Felix dengan nada berat. “Sebelum engkau mati, Irene pasti akan membunuhku terlebih dahulu!”

Seakan berada di tempat yang terbuka, tubuh Felix dan Stevy semakin merinding karena dinginnya malam yang sudah membuat kulit mereka mati rasa. Mereka tak mau menghiraukan apapun selain keadaan Ira yang tak tahu entah dimana.

Mobil yang dikendarai oleh Felix berhenti mendadak, hingga membuat kepala mereka terbentur dan merasa kesakitan. Ini adalah suatu tindakan cepat yang dilakukan Felix, karena mobil mereka hampir saja menabrak mobil yang sedang terparkir di depan mereka.

“Felix!!!” Stevy berteriak jengkel. Karena kelalaian Felix, mereka hampir celaka seperti ini.

Memar yang tertanda di dahi kanan mereka tidak menjadi masalah besar dibandingkan harus menabrak mobil yang berada di depan mereka tersebut. Tanpa mau mencari tahu sama sekali, mereka meninggalkan mobil tersebut, dan bergegas untuk mencari Ira kembali.
Felix kembali menjalankan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga hal yang sama terjadi lagi. Felix menghentikan mobil secara mendadak, membuat kepala mereka kembali terbentur dan tak sadarkan diri. Felix hampir saja menabrak mobil yang sedang terparkir dihadapannya, namun aksi penyelamatan diri mereka harus menghentikan aksi pencarian Ira.

Ira terlihat sangat lelah, seperti badannya akan remuk. Jangankan memopang Risa, bahkan berjalan sendiri saja telah membuatnya tak bisa membedakan mana langit dan mana bumi. Ia berhenti di bawah sebuah pohon besar, meletakkan Risa yang sudah tertidur pulas dan menyandarkannya pada pohon tersebut.

“Aku harus tetap nyari bantuan!” Ira berdiri, melanjutkan aksinya. “Mungkin Risa akan baik-baik saja disini.”

Tanpa mencemaskan Risa, Ira kembali berjalan tertatah-tatah sepanjang jalan utama tersebut. Ia berharap ada sebuah rumah disekitar sini, setidaknya ada orang yang berbaik hati memberinya dan Risa tempat beristirahat.

Hampir dua puluh menit berjalan, Ira akhirnya menemukan sebuah gubuk kecil. Di pintu depannya terdapat sebuah papan kecil bertuliskan ‘Mbah Ramli”. Tanpa berpikir panjang, ia mengetuk pintunya berharap kebaikan dari pemilik rumah.

Tiga ketukan Ira telah berhasil membuat dua orang suami istri yang sudah sangat berumur membukakan pintu dan menatapnya intens. “Ada apa, nak?” Tanya pria tersebut.

“Saya butuh bantuan!” Jawab Ira sambil meneteskan air mata.

Rasanya sudah satu jam mereka tak sadarkan diri, sebelum akhirnya Stevy membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Ia memperhatikan Felix yang masih belum sadarkan diri dan lingkungan gelap di sekitar mobil.

“Stevy!”
Aaaaaaaaaa.....” Stevy berteriak lantang saat melihat kearah luar dari kaca mobil tersebut.

Mendengar suara tersebut, membuat Felix sadarkan diri. Ia hanya dapat melihat Stevy menangis sambil menutup matanya diatas bangku mobil tersebut. “Kenapa, Stev?”

Stevy memeluk Felix erat, “Irene!” Ujarnya terbata-bata sambil menangis tersedu-sedu.

Di gubuk tua tersebut, Ira duduk disebelah Risa sambil menangis tersedu-sedu. Ia rasa dirinya tak akan selamat dari kutukan yang sedang melandanya saat ini. Kesedihannya membuat hati Pak Ramli dan istrinya luluh.

“Ada apa, nak?” Tanya Pak Ramli lembut. Ia mungkin dapat membantu Ira keluar dari masalahnya saat ini.

Ira menatap Pak Ramli, “Pak, apakah bapak tahu mengenai sihir atau kutukan?” Ira mengambil nafas sejenak. “Sepertinya aku mendapatkan sebuah kutukan.”

Pak Ramli terdiam membeku, “Kutukan?” Ia masih mencoba untuk merespon kalimat Ira tersebut. “Apa yang membuatmu yakin kalau itu adalah kutukan?”

Ira terdiam sejenak, memperhatikan Pak Ramli kebingungan. “Aku memiliki sebuah tanda aneh di kaki kananku.” Risa memperlihatkan betisnya pada Pak Ramli dan istrinya. “Dan aku selalu dihantui oleh makhluk yang bahkan aku tak tahu itu apa.”

Melihat tanda tersebut, membuat Pak Ramli dan istrinya tercengang. “Pak, segitiga itu!” Ucap Bu Ramli terbata-bata. “Di betis!”

“Ada apa, Bu? Kenapa dengan tanda ini?” Tanya Ira kebingungan. Ia benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang diketahui oleh suami istri tersebut tentang tanda aneh itu.

Pak Ramli menatap Ira sejenak, “Tidak! Itu bukan apa-apa!” Jawab Pak Ramli singkat. Wajah Pak Ramli semakin pucat dengan keringat yang ikut mengalir diwajahnya. “Lebih baik kau beristirahat!”

Karena tidak puas dengan jawaban tersebut, Ira terus memaksa suami istri tersebut untuk memberitahunya. Ia sudah lelah untuk hidup seperti ini, dikejar oleh makhluk yang bukan dari bangsanya.

Hampir setengah jam Ira memaksa Pak Ramli, hingga orangtua tersebut tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya pada Ira. Ia berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kesalahan masa lalunya.

“Sebenarnya...” Pak Ramli memulai kalimatnya.

Tok Tok Tok....

“Pak Ramli!” Teriak seseorang dari luar rumah sambil mengetuk pintu dengan kuat. “Pak Ramli!”

Tanpa menunggu orang tersebut merubuhkan pintu rumahnya dengan ketukan seperti itu, Bu Ramli segera bangkit dari tempatnya dan membuka pintu tersebut.

Tak lama, Bu Ramli telah datang kembali bersama seorang perempuan dan laki-laki. “Stevy! Felix!” Tanya Ira tak percaya. “Apa yang kalian lakukan disini?”

Melihat Ira yang masih dalam kondisi baik, Stevy segera mendekatinya dan memeluknya erat. “Ira baik-baik saja, kan?” Tanyanya cemas.

“Ada apa ini?” Tanya Ira mencoba melepaskan pelukan Stevy. “Mengapa kau mencemaskan diriku?”

Felix mendengus pasrah, “Pak Ramli, ceritakan semuanya!” Perintahnya tegas. Ia segera duduk di dekat Ira.

“Baiklah....” Pak Ramli memulai.

Sebelas bulan yang lalu, jika kau mengingatnya, engkau pernah diculik oleh beberapa orang. Saat engkau diculik dan tak sadarkan diri, kau dibawa ke tempat ini. Kami berencana melakukan sebuah praktik ritual yang sudah dilarang didunia perdukunan.

Ini semua atas perintah Ayah Stevy yang membayarku dengan uang yang sangat berlimpah. Melakukan praktik ‘Triatomi’, Praktik menyatukan darah tiga orang agar ketiga orang tersebut memiliki tiga sel darah masing-masingnya. Ini adalah praktik yang sangat berbahaya.

Dalam praktik ini, ada tiga bagian, yaitu Borban, Batrah dan Binal. Borban adalah korban awal yang tidak tersangkut dalam masalah ini. Selanjutnya Bathrah adalah penyatu darah Borban dan Binal, yaitu orang yang masih tersangkut dalam masalah, namun dalam pihak kedua. Selanjutnya adalah Binal, orang yang memiliki andil tertinggi dalam masalah, orang yang dilindungi dari masalah.

Di praktik yang aku lakukan, aku membuatmu menjadi Borban, Felix sebagai Batrah dan Stevy sebagai Binal. Masalah ini adalah sebuah masalah asmara yang terjadi antara Felix-Stevy-Irene.

“Mengapa kalian begitu tega menjadikanku tumbal?” Ira memotong cepat dengan nada penuh rasa kecewa.

Stevy menangis, “Maafkan aku, Ira! Tapi kau harus mendengar penjelasan kami terlebih dahulu!” Ujar Stevy dengan nada penuh penyesalan.

“Benar!” Tambah Pak Ramli. “Kau harus mendengar penjelasan ini terlebih dahulu.”

Ira terdiam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, Ia tak memiliki pilihan lain selain mendengarkan penjelasan tersebut. Rasanya sama saja jika ia marah, tidak akan hilang ikatan ‘Triatomi’ tersebut dari tubuhnya.

Stevy dan Felix memilihmu karena mereka tahu kau tidak ada hubungan dengan Irene sedikitpun, jadi kau akan aman dari kejarannya. Namun, aku mengetahui kesalahan teori ini, setelah satu bulan berlalu, dan aku mengetahui mengapa teori ini dilarang.

Borban ini seharusnya dilakukan pada keluarga arwah yang sangat disayangi, karena ia tidak akan membunuhnya walaupun terpaksa. Tapi kami menggunakanmu secara tak sengaja, dan aku tak tahu bagaimana caranya Irena dapat mengetahui bahwa kau adalah Borban untuk masalah ini.

“Bagaimana melepaskan ‘Triatomi’ ini?” Tanya Ira spontan. Ia ingin mengakhiri semua ini segera.

“Ini akan kau bawa sampai mati. Belum ada cara untuk melepaskannya, itulah mengapa praktik ini dilarang keras!” Tegas Pak Ramli. “Tapi, karena harta aku dibutakan dan secara hakim sendiri melakukannya padamu. Maafkan kami!”

“Dan aku akan mati sebelum membahagiakan orangtuaku?” Ira menangis tesedu-sedu, tak percaya dengan apa yang telah ia dengarkan.

“Tenang saja, ini akan bertahan selama 2 tahun untuk seorang Borban selamat selamanya.” Sambung Pak Ramli.

Satu tahun pertama, kalian akan merasakan ikatan yang kuat, itulah mengapa Stevy dan Felix mau berteman denganmu selama ini, setelah mereka rajin mem-bully-mu. Tahun selanjutnya, tanda pada Borban akan menghilang, diikuti Batrah pada tahun selanjutnya, dan Binal pada tahun keempat.

Seharusnya, Irena bergentayangan satu bulan lagi hingga tandamu hilang. Namun kesalahan perkiraan ilmu dukunku membuat semua ini terjadi. Sekarang, untuk membunuh Stevy, ia harus membunuhmu dahulu, lalu Felix. Setelah semua tiada, ia akan kembali tenang di alam sana.

1 komentar: